Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

CAHAYA PELIPUR LARA
Semilir angin berayun, menggerakkan pohon-pohon tinggi di sekitar halaman. Rumput-rumput yang tak terlihat subur karena gelapnya malam. Suara erikan jangkring bak alunan musik melow mengiringi panjang perjalanan mimpi dalam nyenyak tidurnya. Kini semua insan terlelap dalam kisah bawah sadar. Berharap esok pagi datang dengan sapaan mentari yang cerah. Lupakan kepenatan yang pernah terjadi, gantikan suasana hati hampa menjadi ceria. Dan kini malam menjadi singgasana damai setiap umat.
Dengan setengah sadar Tiyo memicingkan sebelah mata, berusaha melihat jelas jarum jam yang menunjukkan pukul 01.45 WIB. Rasa malas masih mengandrungi segenap jiwanya, raganya pun berusaha mengumpulkan serpihan nyawa yang masih belum genap setelah terbuai dalam tidur lelap. Setumpuk arsip tertumpuk rapi diatas meja, memaksanya entah harus tersenyum atau sebaliknya saat bertatap kembali. Dan Tiyo tak pantang melawan nafsu, di usap-usap kedua matanya namun ternyata tanpa di sadarinya Tiyo masih terbawa kembali dalam kenikmatan kelabu hingga terdengar suara alarm berdering keras tepat diatas kepala menunjukkan pukul 02.00 WIB. Kini nafsunya benar-benar terusir, kedua matanya terbelalak, gerakannya cepat menuju kamar mandi dengan setengah sempoyongan. Tiyo mulai mengambil wudlu dan melaksanakan shalat tengah malam. Dia nikmati setiap gerakan dan lafadz-lafadz suci, meski tak seratus persen khusuk namun setidaknya usahanya ada untuk itu. Percaya bahwa Tuhan Maha Tahu.
Hampir kurang lebih setengah jam Tiyo bermunajat kepada Tuhan. Kini mulai didekatinya arsip-arsip yang telah lama menunggu sapaannya. Revisi-revisi yang harus di perbaharui demi kesempurnaan skripsi yang akan menjadikan Tiyo seorang sarjanawan. Lulus dengan nilai kumplot adalah asanya. Tapi sepertinya sudah berkurang usahanya untuk itu, meski motifasinya sangat tinggi. Sering kali lelah dan jenuh menghampirinya, apalagi dengan kerap kali revisi yang harus dia lakukan. Namun dibalik lelahnya fikiran dan tenaganya ada beberapa orang disana yang menanti kelulusannya, meski dengan nilai seadanya.
            "Tiyo...gimana sudah konsultasikan kembali revisi yang kemaren?" Tanya seseorang yang ternyata Tiyo mengenalnya. Pak Gunawan, beliau adalah orang paling berjasa dalam hidupnya. Tiyo menundukkan kepala sambil menjabat tangan dan mencium punggung tangan pak Gun.
            "Belum pak...semalam masih belum mendapatkan ilham...hehe..." Jawabnya dengan nada sedikit bercanda.
Akhirnya pak Gun sempatkan untuk berbincang sejenak dengan Tiyo. Beliau koreksi beberapa skripsi yang belum sesuai, sedikit beliau berikan masukan sebagai penyempurna isi dari skripsinya. Tiyo mengambil tema tentang aneka budaya khususnya keragaman dalam beragama di Indonesia, sehingga sedikit membutuhkan pikiran dan tenaga ekstra untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, apalagi dengan skripsi bilingual. Namun semua di jalaninya sebisa mungkin, demi hasil yang di harapkan.
            Tit...tit...tit...tit...Suara ponsel berdering, sepintas terlihat pesan atas nama Agung P.
            Simbah pengen tlpn km kang,kangen ktny...Pesannya singkat.
            Bilng ke simbah nanti saja aku yg tlpn, skarng msh dikamps...Balas Tiyo.
Segera Tiyo bereskan buku-buku yang berserakan dimeja perpustakaan. Tumpukan buku yang di pinjam sebagai data refrensi di kembalikan ke rak dengan rapi. Kemudian langkahnya cepat bergerak menuju kantin perpustakaan demi mengisi perut yang mulai tak bisa diajak kompromi. Dengan lauk tahu dan krupuk serta menu oseng-oseng kangkung di lahapnya dengan rasa nikmat. Menu yang tak banyak merogoh kantong bagi mahasiswa sepertinya yang hidup dengan serba pas-pasan.
Tiyo pulang di rumah kostnya bersama dengan salah seorang teman. Rencananya semalaman mau lemburkan tugas-tugas yang rasanya sudah agak bosan untuk menyentuh kembali. Kini Tiyo masih asyik bersantai sebelum kembali berkutat dengan tumpukan arsip tugasnya.
            Tit...tit..tit...No tlpn yang anda tuju berada diluar jangkauan...
Berulang-ulang Tiyo mencoba menghubungi Agung, tetangga rumah di desanya yang diamanahi untuk menjaga nenek kakeknya di desa. Agung sudah seperti bagian dari keluarga Tiyo, meski Agung mempunyai kesibukan lain namun dia bersedia untuk menjaga dan merawat kakek nenek Tiyo selama Tiyo mengenyam dunia pendidikan di Kota Apel tepatnya di Malang.
Selang beberapa menit, ponsel Tiyo berdering. "Assalamu’alaikum...kang Tiyo...simbah kang..." Terdengar suara Agung panik.
            "Simbah kenapa Gung?"
            "Simbah ada dirumah sakit kang..." Jawab Agung terbata.
            "Gung...kamu jangan bercanda. Kenapa bisa?"
            "Tadi pas habis dari rumah, waktu simbah minta tolong buat sms kang Tiyo. Emperan rumah licin sepertinya kang, karena tadi pagi hujan turun sangat lebat disini. Tiba-tiba simbah terpleset. Dan sekarang masih belum sadar juga kang..." Jelas Agung dengan nada gemetaran.
Tanpa berpikir panjang Tiyo segera menghubungi travel yang sekiranya masih kosong untuk satu penumpang. Sore hari dipastikan bus menuju Pacitan sudah tidak ada yang berangkat. Hanya travel satu-satunya kendaraan yang masih bisa diandalkan dan itupun masih berangkat pada pukul 21.00 WIB nanti. 
            "Tiyo…yang sabar ya…ujian Tuhan itu pasti ada hikmahnya" Dengan tersenyum meski agak memaksa Tiyo menanggapi petuah temannya. Salah satu teman dekatnya yang mengetahui lika-liku kehidupan Tiyo.
Tiyo adalah seorang yang sangat sayang dengan orang-orang disekitarnya. Keluarga, teman, dan hidupnya tak ada yang sedikitpun disia-siakan. Baginya apa yang ia punya saat ini adalah apa yang harus diperjuangkan. Ibunya meninggal dunia saat Tiyo masih duduk dibangku sd karena terserang penyakit jantung. Waktu itu setelah adu mulut dengan bapaknya, kemudian ibunya mengalami sakit yang luar biasa, hingga nyawanya pun tak bisa terselamatkan dengan penyakit jantung yang diderita. Bapaknya harus berada dibalik dinding perawatan jiwa, karena mengalami gangguan jiwa akibat stress berat setelah bangkrut bisnis yang dijalani. Dengan meninggalkan hutang yang nominalnya pun tidak sedikit, namun semua bebannya teringankan dengan bantuan sanak saudaranya. Itulah sebabnya Tiyo mengubur dalam-dalam kenangan masa lalu bersama bapaknya. Saat ini kebencianlah yang Tiyo rasakan, karena merasa ditelantarkan akibat ulah bapaknya. Sekalipun Tiyo tak pernah berkunjung ke rumah sakit jiwa dimana bapaknya masih berjuang untuk hidup. Bahkan untuk menjenguk dan sekedar melihat kondisi bapaknya saja tidak ada keinginan sama sekali.
Biaya kuliah selama ini didapatkannya dari beasiswa dan juga belas kasih dari salah seorang dosen di Universitasnya yang mengangkatnya sebagai anak. Tiyo masih bersyukur atas kebaikan dan anugerah Tuhan dibalik hidupnya yang pilu.
Tiyo memandangi neneknya yang terbaring di ranjang dimana neneknya dirawat inap. Fisiknya yang hanya tinggal tulang membuat Tiyo tak tega melihatnya. Perlahan air mata Tiyo menetes membasahi pipinya. Kedua bibirnya saling bergigitan menahan isakan agar tak terdengar oleh orang-orang yang masih terlelap karena begadang semalam untuk menjaga neneknya. Tiyo menyesal akan apa yang ia lakukan…
"Andai saat itu aku putuskan untuk bicara dengan simbah dan tidak disibukkan hanya dengan skripsiku, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi pada simbah gung…padahal simbah hanya ingin bicara denganku, hanya ingin mendengar suaraku…simbah kangen sama aku…tapi aku…" Ucapnya lirih dengan menyandarkan kepalanya dibahu Agung.
"Kang…semua rencana Tuhan siapa yang tahu. Sekarang kita hanya bisa berdo’a dan berharap Tuhan masih menyisipkan nyawa simbah agar masih bisa melihat kang Tiyo hingga kang Tiyo wisuda dan menikah kelak. Tak perlu disesalkan kang…" Tiyo kemudian berjalan lunglai menuju mushola rumah sakit. Ingin rasanya dia adukan segala keluh kesah hidupnya pada Sang Khalik. Ingin rasanya dia berteriak sekuat tenaga untuk melepaskan beban hidupnya.
Di mushola rumah sakit Tiyo hanya seorang diri, hari masih sangat dini menjelang subuh, sehingga belum ada jama’ah yang berdatangan. Tiyo pejamkan matanya dengan kepala tertunduk. Entahlah apa yang ia pikirkan, apakah biaya perawatan yang jelas tidak sedikit, atau hal lain. Tiyo terlihat lelah dan lemas.
            "Kang...kang Tiyo mikir apa? Cerita sama Agung kang…masalah biaya simbah ndak usah terlalu dipikirkan, Agung masih ada tabungan kok…yang penting setelah ini kita masih bisa kumpul lagi seperti dulu. Kakek juga Alhamdulillah sehat dirumah…kang Tiyo ndak kepengen pulang dulu lihat kakek…?" Tiyo tak sanggup mendengar kebaikan Agung yang tulus. Air matanya semakin berderaian. Dipeluknya Agung yang duduk bersila disampingnya. Agungpun membalas pelukannya dengan lembut dan kasih sayang layaknya seorang kakak adik.     
Suara adzan terdengar bersahutan memecahkan keheningan dini hari. Satu dua orang sudah terlihat memenuhi mushola rumah sakit yang berukuran 3x4. Tiyo menjalankan shalat subuh berjama’ah dengan beberapa makmum yang mengikuti gerakannya.
Tiyo kembali menuju ruangan dimana neneknya dirawat, namun posisinya masih seperti semula belum siuman. Dia putuskan untuk pulang kerumah, untuk melihat keadaan kakeknya. Rumah Tiyo sangat sederhana, lantai rumah yang masih belum berkeramik dengan atap rumah yang sudah berusia tua. Banyak sarang laba-laba menghiasi sudut-sudut ruangan. Miris Tiyo meratapinya.
Bibir Tiyo saling bergigitan, bergetar saat melihat kakeknya sibuk menanak nasi dengan badan setengah membungkuk dan badan yang gemetaran, kakek Tiyo masih berusaha agar nasi buatannya bisa dinikmati istrinya di rumah sakit nanti, agar rasanya tidak mengecewakan sang istri saat melahapnya. Tiyo hanya memandangnya dari balik gorden sebagai pemisah antara ruang tengah dengan dapur. Sebentar-sebentar Tiyo meremas dadanya, sepertinya rasa sakit akan jalan hidupnya begitu terasa. Skenario Tuhan yang tak kunjung berubah akan nasibnya semakin lama membuatnya tak tahan.
Tiyo mendekat perlahan, diciumnya punggung tangan kakeknya yang sedang sibuk mengaduk nasi. Betapa kaget sang kakek dengan kedatangan cucu kesayangannya. Tiyo kemudian mengambil entong yang masih ada digenggaman tangan kakeknya. Dengan senyum simpul Tiyo gantikan kakeknya menanak nasi. Dan ini bukan pekerjaan aneh yang dilakoninya. Bahkan menanak nasi adalah pekerjaan rutin sejak ia masih duduk dibangku sd, setelah ibunya meninggal dunia.
Mentari semakin menjulang, jalanan mulai dipadati dengan aktifitas umat. Dengan sabar Tiyo mengandeng tangan kakeknya dan mengantarnya ke rumah sakit yang kebetulan tidak jauh dari kediamannya.
Sudah ada sejumlah orang yang mengelilingi neneknya. Namun pandangan yang didapati dari neneknya masih kosong. Tiyo cium kening dan pipi neneknya, tangan neneknya yang keriput seperti terlihat hanya berbalut tulang saja dengan selang infus yang menjalar. Sungguh memilukan. Semakin tak tega Tiyo melihatnya. Kakek Tiyo mengusap kening dan badan istrinya dengan kain basah. Rasa cinta antara dua insan kini terpancar ditengah-tengah pasangan yang semakin senja dimakan usia. Tiyo suapi neneknya dengan penuh kasih sayang. Kadang Tiyo seperti berbincang sendiri, karena neneknya belum bisa membalas percakapannya. Banyak air mata yang tak sanggup terbendung saat melihat adegan layaknya tontonan film dramatis. Sungguh keluarga malang yang memprihatinkan.
Beberapa hari ini Tiyo disibukkan dengan pekerjaannya dirumah. Sepertinya dia sudah sedikit lupa akan skripsi-skripsi yang masih belum tuntas. Merawat neneknya adalah prioritasnya saat ini. Meski sudah bisa dibawa pulang, namun belum sepenuhnya keadaan neneknya membaik. Perlu perawatan intens untuk memulihkan kesehatan neneknya.
Betapa terkejutnya Tiyo dengan kedatangan seseorang yang tidak diduga sebelumnya. Penampilannya yang lusuh dengan berlumuran oli ditangannya membuatnya segan berjabat tangan. Tiyo mempersilahkan pak Gunawan memasuki rumahnya yang sangat sederhana. Tiyo suguhkan minuman dan juga makanan ringan seadanya.
            "Kenapa kamu tidak pernah kabari bapak, jika ternyata nenek kamu sakit...?" Tanya pak Gunawan dengan nada sedikit kecewa. Sedikitpun Tiyo tak angkat bicara.
            "Bapak ingin kamu kembali ke Malang lagi..." Tegas pak Gun
            "Mana mungkin saya tega meninggalkan simbah dan kakek saya pak...saya akan kembali, tapi ndak sekarang..." Jawab Tiyo.
            "Kapan...? Nunggu semuanya usai...? Tiyo..bapak akui langkah yang kamu ambil tidaklah mudah, apalagi jika harus meninggalkan kakek nenek dengan kondisi mereka berdua seperti saat ini. Tapi yakinlah semua ini demi mereka, satu-satunya keluarga yang kamu punya saat ini. Bapak juga tidak mengharapkan apapun dari kamu, kecuali keberhasilan kamu yang sudah kamu perjuangkan...dan bapak yakin kamu mampu mengambil keputusan dengan baik..." Tak pantang pak Gunawan memberikan motivasi kepada Tiyo. Tiyo sudah dianggapnya sebagai anak sendiri, apalagi sang istri yang sangat mengagumi kecerdasaan Tiyo. Sehingga berapa pun banyaknya biaya kuliah yang dikeluarkan untuk Tiyo tak jadi masalah.
            "Pergilah Tiyo...selesaikan apa yang seharusnya kamu selesaikan. Semua akan baik-baik saja disini. Simbah dan kakek kan juga kepengen lihat kamu cepet lulus." Sela kakeknya dengan nada terbata ditengah-tengah pembicaraan.
Dengan sikap sigap Tiyo peluk erat kakek yang berdiri di belakangnya. Meski langkah Tiyo untuk meninggalkan kakek neneknya sangat berat, namun tidak dapat dipungkiri bahwa Tiyo mempunyai tekat untuk menjadi sarjanawan dengan nilai memuaskan dan semua itu Tiyo lakukan demi orang-orang yang sudah bersedia menjadi tiang penguat bagi perjalanan hidupnya.
Pelik memang dalam mengais hidup yang kita sendiri tak tahu alur akan akhir kehidupan. Namun sejauh kaki melangkah pasti akan ada akhir meski dalam gulatan misteri. Hidup adalah tantangan, hidup adalah pilihan. Meski semua butuh perkiraan yang kadang hanya mengundang asa. Jika kadang hampa yang dirasa hanya ada keyakinan sebagai penguat bahwa suatu saat akan ada timbal baliknya.
Saat ini Tiyo berada dimana ujian sedang membawanya berada pada posisi yang tiada seorangpun mengira. Bahkan dirinya sendiri.    
Siang malam Tiyo mulai bergulat dengan skripsinya. Bahkan malam pun bagaikan siang, hingga lapar kadang lewat dengan kesibukan berpikirnya. Setiap detik hanya dia gunakan untuk menyempurnakan setiap kekurangan-kekurangan dari skripsinya. Tiada sedetikpun waktu yang sia-sia. Dan Tiyo hampir saja melewatkan masa yang benar-benar mengecewakan, namun karena dukungan dari pak Gunawan juga orang-orang tercintanya, hingga akhirnya dia mampu menyelesaikan tugas akhir dengan baik.
Kini Tiyo harus berhadapan dengan beberapa dosen penguji skripsi untuk dimintai keterangan dari skripsi yang telah dibuatnya. Masa-masa mendebarkan bagi Tiyo dan segenap teman-temannya yang saat itu juga menjalani ujian skripsi. Tatapan para penguji yang kadang membuat konsentrasi para mahasiswa kabur. Atau berbagai pertanyaan dosen yang kadang tak tertebak oleh mahasiswa. Hingga kacau balau yang membuat para mahasiswa stress saat menghadapi ujian. Tiyo pun merasakan saat-saat itu. Peluh dingin bercucuran disekeliling kening, hembusan nafas yang mulai tak beraturan sedikit menganggu konsentrasi dalam berpikir. Kini hanya bantuan Tuhan yang diharap datang sebagai mukjizat yang tak terduga. Tiyo akhirnya melewatkan masa-masa menegangkan itu. Dengan mengucap syukur kemudian Tiyo bersalaman dengan dosen-dosen pengujinya saat diperkenankan meninggalkan kelas. Meski usai, namun ini bukan akhir dari segalanya. Karena bagaimanapun perjalanan hidup yang akan dilalui pasti akan semakin menantang.
Dua bulan pun berlalu. Ujian yang pernah dijalaninya kini hanya sebagai history suka duka. Banyak pahit manis yang dijalani saat menyandang status sebagai mahasiswa. Dan kini semuanya memang akan berakhir.
Tiyo berjalan menyusuri kampus tercintanya. Dengan mengenakan hem putih dan celana kain hitam, ditiliknya orang-orang lalu lalang memadati area kampus. Banyak orang tua juga sanak keluarga masing-masing yang berdatangan. Kini Tiyo hanya tersenyum simpul memperhatikan ulah teman-teman yang parasnya memancarkan kebahagiaan.
"Kang gimana rasanya sebentar lagi mau jadi sarjanawan? Pasti senang ya kang?" Dengan nada polos Agung bertanya seolah-olah dirinya merasakan kebahagiaan yang sama. Tiyo kemudian merangkul Agung. Berharap Agung merasakan kebahagian yang saat ini juga dirasakannya. Meski tak sebahagia teman lainnya yang mengandeng tangan orang tuanya sebagai wali. Namun kebahagian yang Tiyo rasa adalah kebahagian syukur. Syukur yang tiada kira atas anugrah Sang Kuasa.
Semua mahasiswa memasuki aula yang disediakan. Beribu-ribu mahasiswa nampak bahagia dengan kostum wisudanya. Satu persatu mahasiswa berkeliling mengelilingi audiens dengan menggunakan toga saat nama mereka satu persatu disebutkan. Dan betapa terkejutnya ketika disebut-sebut bahwa Tiyo menyandang sebagai mahasiswa terbaik dari sekian ribu mahasiswa lulusannya. Perasaan berkecamuk bahagia bercampur sedih yang tak mampu mewakilkan apa yang dirasanya. Perlahan langkah Tiyo tertatih saat dia harus maju kedepan beribu pasang mata untuk memberikan sambutan sebagai peraih nilai terbaik. Suasana ricuh menjadi tenang sesaat saat kata perkata keluar dari mulut Tiyo. Air mata yang juga tak bisa terbendungkan saat dia mulai mengingat atas perjuangan hidup yang selama ini kerap membuatnya letih. Dan kini Tiyo benar-benar merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan setelah jerih payah yang dijalaninya.

"Agung Pambudi...dia adalah teman, adik dan juga kakak buat saya. Predikat A ini adalah untuk kamu..." Suara Tiyo menahan isakan. Dengan serentak beribu mata tertuju kepada Agung, saat Tiyo menyebut dan juga menunjuk kearahnya. Layaknya seorang yang terkenal Agung berdiri kemudian menundukkan sedikit kepalanya sebagai rasa hormat. Pelukan yang diberikan pak Gunawan kepada Tiyo adalah pelukan hangat bak seorang bapak dengan anaknya. Dan semuanya benar-benar terharu saat pak Gunawan sedikit bertutur tentang kisah jatuh bangunnya Tiyo dalam menjalani hidupnya. Tiyo kemudian bersujud panjang didepan para dosen juga audiens, sujud syukur kepada Tuhan bahwa saat ini kebahagiaan itu mampu dirasanya. Bahwa tak ada yang sia-sia dari kepahitan hidup yang dirasanya. Dan inilah akhir dari jerih payah seorang mahasiswa dengan segenap tirakatnya. Merangkai kembali serpihan kebahagian yang pernah pupus. Berharap saat ini, esok, lusa dan selamanya kebahagiaan akan terus berada pada pihaknya sebagai pelipur lara yang pernah dirasa. 

THE END.....

Hidup enak dan layak adalah pilihan semua orang, namun yang harus kita ingat adalah bahwa kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan Yang memiliki cinta yang tak berujung pada setiap hamba-Nya. cintaNya kadang disajikan dalam sebuah suka duka yang kita jalani. untuk itu sedikit pelajaran dari cerpen diatas yang bisa kita jadikan sebuah himbauan, bahwasanya jagan sampai kita terlena dengan suka saat kita merasa, dan juga jagan larut dengan duka ketika kita merasa dilanda, karena semua berbuah cinta-Nya...
semoga kita tergolong hamba yang selalu diberi petunjuk....Amiiin Ya Robbalalamiin... 

Selasa, 11 September 2012

ADAKAH CINTA UNTUK SI HAWA…??

Tentang rasa yang tak pernah dimengerti. Tentang cinta yang dirasa hampa. Mengurai kisah cinta seorang hawa, yang memiliki cinta yang entah bagaimana cara mengespresikannya. Apakah cinta hanya milik sang Adam?? Bagaimana dengan Hawa yang merasakan cinta…apakah takdir seorang Hawa hanyalah menerima cinta…

Hawa itu bernama Yuvita Salekhah Larasati, Yuvi sering orang memanggilnya. Berkepribadian tertutup meskipun mempunyai sifat periang. Tak banyak orang tahu akan masalah yang di rasanya. Entah bagaimana cara dia mengatasi masalah hidup dengan sendirinya.

Suatu ketika di kamar di mana dia membaringkan tubuh mungilnya. Hand phone miliknya berdering, terlihat beberapa massage di layar hp nya dari seseorang.

K Ihsan
Bagaimana kabar??

K Ihsan
Met istirahat..

Tak ada satu pun massage Ihsan yang terbalas oleh Yuvi. Cuek, ya…gadis mungil ini terkesan cuek, apa lagi dengan lawan jenisnya. Hati nya tak kunjung luluh dengan tawaran cinta yang kerap menghampirinya. Entahlah apa yang menjadi tujuan nya dengan hidup yang serba apa adanya. 

Apakah tak ada kata cinta di perbendaharaan pikirannya, atau mungkinkah tak ada sedikit rasa pun kepada seorang lawan jenis yang dikenalnya…memang tak mudah menebak pikiran gadis ini. Jika banyak gadis seumurnya yang kerap kali sakit hati karena masalah cinta, berbeda dengan gadis ini, sepertinya tak sama sekali dia berpikir tentang masalah hati.

“Yuvi…tak adakah tempat dihatimu untuk sekedar menyimpan namaku…??? Aku sunguh sayang kamu…tolong berilah sedikit celah dihatimu untuk ku…” Pria tampan itu tak putus asa merengek cinta pada Yuvi, yang pasti jawaban tak sedap akan dilontarkannya. Yuvi hanya tersenyum, tak ingin ada yang tersakiti dengan sikapnya yang terlalu dingin akan cinta, namun itulah Yuvi, yang tak tahu kapan akan membuka hati untuk orang yang menaruh hati padanya.

“Sekali lagi maaf…mungkin aku bukan lah orang yang kamu cari selama ini, jika hanya sebatas teman mungkin aku akan lebih bersedia, namun jika kamu meminta lebih dari itu, maaf…aku tidak bisa…” Jelas Yuvi pada Ihsan, yang tiada henti meluluhkan hati Yuvi.

Yuvi hanya disibukkan dengan jadwal perkuliahan, dia lebih senang bergelut dengan materi-materi perkuliahan dan teman-temannya dari pada harus memikirkan masalah cinta. Suatu saat ketika Yuvi berbincang dengan ibunya melalui seluler. “Nak…gimana??”

“Apa mi’??” Tanya Yuvi yang tak tahu maksud umi’nya..

“Itu…yang pernah umi’ bicarakan dulu…” 

“Hemm…mi’…mi’…umi’ selalu begitu…insya Allah mi’…do’akan saja…” Jelas Yuvi.

Yuvi adalah salah satu anak yang menjadi harapan orang tuanya, selain karena posisinya yang menjadi anak pertama, juga karena usia orang tuanya yang menginjak usia senja, tak sabar sepertinya orang tua Yuvi melihat anak sulungnya segera menemukan pasangan hidup dan memberikan seorang cucu bagi mereka. Untuk itulah tak bosan orang tua Yuvi selalu menanyakan perihal itu pada Yuvi. Ternyata mereka mengidamkan seseorang yang dianggapnya pantas menjadi pendamping bagi Yuvi. 

Sejak perbincangannya dengan orang tuanya mengenai seseorang yang di inginkan orang tua Yuvi, sejak saat itulah Yuvi sedikit berpikir, dengan usianya yang menginjak 20 tahun tak mungkin selamanya Yuvi tak memikirkan masalah pendamping hidupnya. Apa lagi menanggapi keinginan orang tuanya yang kerap kali menanyakan persoalan itu. Sering kali Yuvi terdiam, seperti tersekak oleh perbincangan orang tuanya yang tak searah dengan dirinya. Namun begitulah harapan semua orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik untuk masa depannya.

Meskipun demikian Yuvi tak jauh beda dengan hari-hari sebelumnya. Sifat cueknya masih saja mengandrungi dirinya. 

Lagi-lagi hand phone gengamnya berdering. Kali ini dengan nama Mas Izul. Dengan segera Yuvi membalas massagenya.

Yuvi
Alhamdulillah baik mas, aku dikampus…
Jawabnya dengan tangan yang masih gemetaran.

Mas Izul
Besok aku pulang, kamu gag pulang?

Yuvi
Hem…tidak, masih ada acara kampus mas…

Setelah beberapa kali berkirim kabar melalui seluler dengan Izul, sejak saat itu pikiran Yuvi menjadi resah. Tanpa di sadarinya terkadang lamunanya membayangkan sosok Izul yang entak mulai kapan masuk dalam memorinya. Berawal dari orang tuanya yang sering kali menanyakan hubungannya dengan Izul hingga akhirnya muncul sedikit rasa pada sosok Izul. Yuvi pun sesegera mungkin menepiskan lamunanya, tak ingin rasa itu masuk terlalu dalam di hatinya. Tak ingin pula orang lain tahu, bahwa hatinya kini mulai pulih, pulih dari sifat cuek yang dimilikinya selama ini.

Namun kini kenyataan yang dihadapinya terlalu menyanyat hati. Sedikit cinta yang mulai tumbuh tak sama sekali terlihat tanda-tandanya. Dia yang harus menanti kini mulai merasa lelah dengan penantian yang diharapkannya. Hanya dengan bait-bait puisinya dia mengespresikan rasa yang mulai tumbuh.  

Apakah ini rasa yang sesungguhnya..
Apakah ini rasa yang datang bukan karena terpaksa…
Apakah rasa ini bernama cinta…
Aku tak mampu memahaminya…

Ulahku terlalu lucu untuk dipadu,
Caraku terlalu membuat diriku malu,

Hal yang tak pernah aku tahu…
Adakah rasa yang sama dihatimu…
Tentangku…

Sosok yang membuat hati seorang Yuvi luluh, hanya dengan beberapa kali pertemuan saja. Namun sayang entah lah Tuhan menyematkan rasa yang sama atau tidak dihati seorang Izul untuk Yuvi. Kini sering air matanya mengalir membasahi pipinya saat memikirkan sosok Izul, sujud panjangnya mengadu masalah hati yang sering membuatnya kelu. Baginya hanya Tuhanlah sang pemilik cinta yang bisa membuatnya tenang kembali. Sehingga syair pun tercipta dari lubuk hati terdalamnya. 

Aku mencinta,
Namun tak ku rasa,
Aku memuja,
Namun tak ku kata,
Semua sembunyi di balik hati,
Semua membeku dalam angan,
Bukan ku apatis dengan perasaan,
Bukan ku berpasrah dengan keadaan,
Namun ku hanya ingin menanti secercah cahaya cinta yang datang karena Nya bukan karena nafsu belaka,
Karena ku ingin cinta yang selamanya,
Bukan cinta yang sementara,

Dengan bait-bait puisi yang di tulisnya, setidaknya sedikit membuat hatinya tenang. Walau hatinya penuh dengan keyakinan, namun scenario Tuhan siapa yang tahu. Hanya do’alah sebagai penguat keyakinan akan pada siapa kelak hatinya bertaut. 

Apa seperti inikah rasa yang pernah dirasa oleh orang-orang yang pernah menaruh hati padaku?? Ataukah lebih sakit dari yang aku rasa saat ini…sekarang semua setimpal, karena aku saat ini merasakan apa yang pernah mereka rasakan padaku…

Memori Yuvi mengingatkan pada orang-orang yang pernah menaruh hati padanya. Kini semua menghilang, saat dia benar-benar butuh seorang penenang. Hanya Tuhan lah yang tertinggal sebagai kekasih yang sesungguhnya sebagai sahabat selamanya.

Ku mulai dengan ungkapan syukur,
Syukur atas semua pemberian-Nya,
Atas kenyataan,
Atas perasaan,

Semakin lama rasa ini semakin menjadi,
Dan semua itu tak dapat ku pungkiri,
Korelasi dan integrasi antara ikatan yang tak ada imbalan,

Aku memang bukan pahlawan cinta yang selalu tersindrom karenanya,
Walau kadang aku berharap hanya dapat senyuman,
Namun apa guna jika semua itu ada karena nafsu belaka,
Bukan harapanku semata,

Lebih baik ku simpan saja di lubuk hati yang terdalam,
Biar perih,
Namun hanya aku yang merasa,
Bukan dia,

Biar ku berteman dengan Tuhan sang pencipta rasa,
Biar rasa ini abadi tuk selamanya,
Walau tak terbalas olehnya,
Namun setidaknya pernah ada rasa tentangnya,

Hanya cinta seorang Izul yang mampu mencairkan hati Yuvi. Bukan karena pangkat akademik yang dimiliki Izul yang membuat Yuvi begitu terperangkap dalam jarring-jaring cintanya, melainkan karena sosok Izul yang dianggapnya memiliki karisma tersendiri saat kali pertama mereka bertatap. 

Ditengah gelapnya malam, di tengah lelapnya umat berbaring melepas lelah. Suara isak tangisnya terdengar dalam ruangan kamar kostnya. Yuvi mengadukan semua permasalahan hatinya pada Sang pencipta rasa yang telah menumbuhkan rasa di hatinya.

“Tuhan…adakah cinta untuh seorang Hawa…??Cinta yang Engkau tanamkan dihatiku begitu sadu…tapi aku hanyalah HawaMu yang tak mempunyai daya apa-apa, tak sanggup rasanya jika penantian ini berlalu begitu lama, karena hamba adalah insan biasa, maafkan hamba jika rasa ini melebihi rasaku padaMu ya Rabb…tapi sungguh itu bukan mauku…”

Air matanya membanjiri putih mukena yang dipakainya. Senggukan tangisnya membangunkan teman satu kost yang perlahan-lahan mulai membuka mata, menamati gerak Yuvi. Meski rasa kantuk Ruri teman satu kost Yuvi, masih mengandrunginya, perlahan Ruri mendekati Yuvi yang duduk bersila diatas bentangan sajadahnya.

“Sabar Yuvi…” Ruri mencoba menenagkan Yuvi, walau tak tahu asal masalah yang dihadapi Yuvi. Matanya masih setengah watt. Tapi tak tega Ruri melihat sahabatnya yang tak pernah sebelumnya Ruri melihat Yuvi menangis. Dengan spontan Yuvi memeluk tubuh Ruri yang masih sempoyongan. Ruri semakin terkaget dengan ulah sahabatnya. Matanya semakin terbuka lebar, rasa kantuk tak lagi dirasanya.

“Jika kamu percaya sama aku, ceritalah…dengan senang hati aku akan mendengarkan masalah kamu Yuvi…” Dengan bijak Ruri menenagkan Yuvi yang tak henti-hentinya menangis. Matanya semakin terlihat sembab, namun tak satu katapun keluar dari mulutnya.

Yuvi menganggukkan kepalanya, senyumnya merekah terpaksa. Yuvi tak ingin terlihat rapuh, diusapnya air mata yang melinang melintas dipipinya. 

“Maaf jika kamu terbangun karena aku Ruri, aku ok kok.” Yuvi meyakinkan pada sahabatnya akan dirinya. 

Ruri kembali keranjang tempat dia merebahkan tubuhnya. Diperhatikan tingkah Yuvi sahabatnya yang terlihat resah. Namun tak banyak yang bisa diperbuatnya untuk sahabatnya, karena sikap Yuvi yang sangat tertutup.
Mata Yuvi perlahan tertutup, mungkin karena lelah dengan tangisnya, sehingga hanya beberapa menit saja Yuvi tertidur. Ruri masih memandangi Yuvi, sikapnya semakin aneh akhir-akhir ini. Yang dulu Yuvi adalah seorang periang, kini periang itu semakin menghilang. Ruri melihat ada sebuah buku yang tergeletak disamping tempat dimana Yuvi melepas lelah tubuhnya. Ruri segera mengambil dan membaca isi agenda yang selama ini membuatnya bertanya-tanya akan isinya. Tanpa dirasa air matanya meleleh. 

“Subkhanallah…” Kepala Ruri tak henti-hentinya menggeleng. Ternyata tanpa diketahuinya selama ini sahabatnya mempunyai masalah yang begitu berat. Mungkin jika Ruri berada diposisi Yuvi, entah bagaimana dia menghadapi masalah yang tak semua wanita sepertinya mampu mengatasi masalah itu. Bait puisi yang ditulisnya terasa menyanyat hati. Kata-kata indah itu mewakili perasaan yang mungkin selama ini dia sembunyikan hanya dalam hati.

Yuvi terbangun mendengar suara adzan subuh. Dilihat sahabatnya Ruri yang memandangi dirinya. Air matanya kembali meleleh ketika melihat buku agenda ada dalam genggaman Ruri.

“Yuvi…kenapa kamu tak pernah menceritakan sedikit pun masalah yang kamu hadapi…??” Ruri membuka pembicaraan.

“Maaf…bukan aku tidak percaya  kamu, tapi aku takut jika semakin aku membuka mulut, maka masalahku ini akan membebani orang lain. Terutama kamu Ruri.” Jelas Yuvi.

“Yuvi aku ini sahabatmu, apa guna sahabat jika tak pernah tahu bahwa sahabatnya sedang luka. Tapi aku mulai tahu, bahwa ternyata kamu bukanlah seperti sesosok Yuvi yang aku pikirkan. Aku berpikir kamu adalah orang yang beku akan cinta, tapi ternyata tidak. Hemmm…tenang Yuvi, kita akan cari bersama solusi cinta yang kamu alami. Selama Tuhan masih dekat dengan kita, maka tak akan ada yang sulit untuk kita mohon pada Nya. Rencana Tuhan lebih indah dari apa yang kita pikirkan.” 

“Terima kasih Ruri…” Air mata berjatuhan ditengah-tengah keduanya.  

Seusai keduanya menjalankan shalat subuh, mereka khusuk dengan do’a masing-masing. Mengadu dan memohon akan masalah hati yang dirasanya.

“Tuhan jika cinta itu tersemat dihati seorang Hawa, maka kasihanilah dia yang tak punya kekuatan tuk mengatakannya. Kekuatan yang dia punya tak lain adalah dari Mu. Hati yang begitu lembut Kau cipta untuk nya seorang Hawa, maka jadikanlah cinta yang dirasa berbuah indah. Kau lebih mengetahui atas apa yang tak ku ketahui Ya Rabb…Amiin…” Setegar dan sekuat Yuvi dalam menghadapi masalah, namun hanya masalah cinta yang dirasanya lah yang mampu membuatnya berbanjiran air mata. Karena begitulah seorang Hawa yang menyimpan cinta dihatinya.

Untuk Adam…
Andai hati seorang Hawa tercipta bak hati seorang Adam,
Mungkin dunia tak seindah yang dirasa…
Begitulah Tuhan Sang Pencipta, yang menciptakan Hawa dengan keindahan dan kelembutan,
Namun Hawa jugalah manusia…
Yang memiliki cinta, sama dengan seorang Adam…
Andai Adam tahu bagaimana sakit yang dirasa saat sebuah rasa tersemat dihati Hawa untuk seorang terkasihnya,
Namun hanya penantian yang mampu diperbuatnya,
Karena apalah daya…
Tuhanlah yang Maha Mengetahui atas sesuatu…









     

Sabtu, 28 Juli 2012

CINTAKU MANIS DIBIBIR


Masa remaja adalah masa terindah, masa penuh dengan kenangan, masa penuh dengan kemesraan. Itu kata orang, tapi kataku…


Bayu Anjasmara Ramadhani, itulah namaku. Bayu biasa orang memanggilku. Mungkin aku adalah anak yang terlahir dengan keadaan yang beruntung, dengan rumah mewah, keperluan serba tercukupi, saudara yang sepertinya menyayangiku, orang tua yang selalu perhatian walau kesibukan mereka juga tak bisa dinomor duakan. Aku bangga, ya mungkin orang lain memandang juga demikian. 


Aku sangat sayang keluargaku, apalagi orang tuaku, sampai-sampai untuk sekedar membantah kata-katanya saja walau dengan nada sopan tak tega rasanya. Berbeda dengan kakak-kakakku. Mungkin kita memang terlahir dengan kepribadian yang berbeda, aku lebih penurut sedangkan kakak-kakakku, selalu saja mempunyai cara untuk mengelabuhi orang tua, mereka selalu menomor satukan keinginannya, sekali iya, kedua orang tua pun tak sanggup berkata-kata lagi.


Sekali lagi aku memang berbeda dengan kakak-kakakku, selain penurut aku juga lumayan mahir dalam bidang akademik, ya sekiranya aku memang ada sedikit prestasi yang patut dibanggakan keluargaku, terutama orang tuaku.
Satu lagi keluargaku yang belum aku kenalin, dia adalah sepupu jauhku, keluarga dari kakekku. Padahal saudara sepupuku juga banyak, lantas kenapa dia yang aku sebutin, sebagai alasannya, itu karena dia berperan penting dalam hidupku. Namanya Ranindia Puspita Sari.


Saat itu aku kelas IV SD, meski pintar tapi aku agak cuek, itulah yang membuatku tak banyak mempunyai teman. Namun setelah kedatangan Ran di sekolahku, rasanya aku tak pernah kesepian, karena dia selalu ada untukku. Dia adalah saudara juga teman yang baik, perhatian, juga tak kalah pintar dari aku. Semenjak kedatangannya di sekolahku sering kali peringkatku terambil alih olehnya, walau kadang aku merasa tersaingi, tapi aku maklum saja, saingan dalam bidang akademik kan oke-oke saja.
“Ye…aku menang…aku menang…” Teriakku sambil menghabur-hanburkan uang monopoli saat aku Ran dan kakak-kakakku sedang asyik main monopoli.


Aku jarang sekali mendapatkan kesempatan menang, pasti Ran kalau tidak kakakku yang menang, itulah sebabnya aku senang sekali ketika bisa mengalahkan mereka.


“Ran…Ran…kamu dimana?” Teriakku saat kami sedang bermain petak umpet.


“Delung….” Teriak Ran sambil memegang tembok sebagai tempat start dan finishnya.


Ran selalu begitu saat bermain, tiba-tiba saja muncul, entahlah dia bersembunyi dimana, sehingga menyulitkanku untuk mencarinya. Ran sangat cerdas bersetrategi dan lincah dalam bermain. Masa kecil kami memang penuh kenangan. Kami adalah saudara dan juga teman. Tapi Sekolah Menengah Pertamalah (SMP) sebagai pemisah antara kita, Ran yang harus kembali ke daerah asalnya bersama dengan keluarganya disana, dan aku juga harus menetap di mana aku dilahirkan. Sedih rasanya kehilangan saudara juga teman yang selama ini tak pernah aku jumpai. Tapi apa harus dikata, semuanya harus terjadi. 


“Ran…kamu hati-hati ya disana, jangan lupa Ran sekali-kali kirim kabar ke aku…”


“Iya yu, kita kan saudara, jadi pasti suatu saat nanti kita akan bertemu lagi, kapan-kapan kamu maen ke tempatku…” Pesan Ran kepadaku.


Saat itulah aku dan Ran tak lagi berkomunikasi. Aku hanya bisa memandangi Ran dari balik album photo yang ada di albumku. Tapi lama-lama aku tak melakukan itu, karena hanya akan menambah rasa kangenku pada saudara juga sahabatku itu.


Tahun ketahun aku lalui dengan aktifitasku. Kini aku beranjak remaja. Kepribadianku sering disanjung oleh kebanyakan orang, terlebih kaum hawa. Dari mulai aku pintar, manis, ganteng, tajir, apalagi lah yang mungkin bisa membuatku terbang melayang jika aku tak menjadi diriku yang sekarang. Tapi karena aku tipe orang yang cuek dan pendiam, kadang aku lebih memilih aktifitasku daripada sanjungan mereka yang menurutku hanya membuang-buang waktu saja.


“Bayu…kamu lagi jomblo kan…? Aku bersedia lo jadi cewek kamu…” Kata-kata basi yang sering aku dengar dari bibir sekian cewek yang berusaha mendekatiku. Tak bosan sepertinya mereka merayu bahkan menggombal, yang kadang aku geli mendengarnya. Padahal sedikitpun aku tak memberi tanggapan.
Tiba-tiba handphoneku berdering, aku tak bergeming membukanya, mungkin juga dari cewek-cewek fansku, salah satu hal yang membuatku malas membaca sms yang isinya sebuah rayuan. Namun kali ini benar-benar membuatku menyesal, aku menyesal karena prasangkaku salah. Aku baru membuka sms tersebut sore hari setelah terbangun dari tidur siangku.


Ran
Bayu apa kabar?


Aku terjungkit ketika membaca sms atas nama pengirim Ran, bahkan aku membacanya berulang kali, padahal isinya hanya menanyakan kabar, itupun tak akan berubah isi jika akupun berulang kali membaca. Aku segera menmbalas sms Ran, berharap mendapatkan balasan secepatnya, sehingga aku bisa berbincang walau lewat short message saja. Hingga beberapa detik, menit bakan jam balasan smsku tak terjawab. Aku hanya mendengus, sedikit menyesal karena tak menggiraukan smsnya. Tiap kali hp ku berdering, yang terlihat hanya nama-nama cewek yang tak ku harapkan. Itu yang semakin membuatku kesal. 


Tapi kadang aku juga berpikir, kenapa hanya Ran yang bisa membuatku semangat, padahal aku tak berpikir tentang Ran, pikiranku hanya berkata jika Ran adalah sahabatku, tapi kenapa sepertinya dia berbeda dari cewek-cewek lainnya. Sejak saat itulah perasaan aneh tentang Ran mulai muncul, tapi aku harus menepisnya, karena bagaimanapun Ran adalah saudaraku sendiri. Aku selalu mengalihkan pikiran setiap kali teringat Ran, karena aku tak mau perasaan ini semakin menjadi, aku bertambah remaja jadi aku sedikit paham jika yang aku rasa ini  bukan sembarang perasaan, melainkan perasaan yang mempunyai makna.


“Bayu…besog ada reuni keluarga, kamu ikut ya…” Ajak kakak tertuaku.


“Besog aku ada kegiatan sekolah kak…” Jawabku seadanya, sambil sibuk mengetik mengerjakan kegiatan ekstra sekolah.


“Ayolah bayu, kapan lagi kita kumpul-kumpul…ini reuni akbar lo di rumah kakek nenek…ikut ya…”  


Kakakku tak hentinya membujuk aku, hingga aku merelakan untuk absen mengikuti kegiatan sekolah.
Acara reuni berlangsung semakin membosankan, aku sedikitpun tak tertarik dengan acara yang diselenggarakan. Aku memilih untuk memojok diteras rumah kakek dan nenek yang lumayan besar. Kakak-kakakku asik dengan obrolannya, dan aku menyendiri hanya ditemani segelas minuman. Tiba-tiba lamunanku dikagetkan oleh suara yang memanggilku berulang-ulang.


“Bayu…yu…Bayu…kesambet loe nglamun terus…” 


Suara itu membuatku terkaget, aku hanya melotot dibuatnya.


“He…bayu…kamu fine kan…? Suara itu menyakinkan keadaanku.


“Kamu…Ran…???” Teriakku histeris dengan mengoyang-goyangkan bahunya.


“Iya…Ranindia Puspita Sari…Kamu ingat aku?”


“Ya ingat lah Ran…” 


Ran sepertinya merasa aneh dengan sikapku yang seperti kangen berlebihan, tapi dia tak berkata apa-apa mengenai itu, dia tersenyum bahkan kami bernostalgia dengan masa lalu. Acara reuni semakin membuatku betah dan nyaman. Aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa bertemu lagi dengan Ran, mimpi pun aku tak pernah, bahkan aku sudah tak berharap bisa bertemu lagi dengannya. Namun kali ini entah lah angin dari mana yang membawa salam kangenku kepadanya hingga walau jauh dia sempatkan untuk berkunjung. Kebetulan sekali Ran tinggal untuk beberapa hari, jadi masih ada hari esok untuk melanjutkan nostalgia atau untuk mencetak kenangan baru bersama. Sungguh ini membuatku merasa lega setelah 4 tahun tak bertemu dengan Ran.   


Ran masih sama seperti Ran yang aku kenali dulu, dia masih baik, pribadinya membuatku nyaman setiap kali berbincang dengannya. Kami bertemu setelah beranjak remaja dengan usia aku 18 tahun dan Ran 17 tahun. Kami bercakap berbagai cerita, dari mulai aktifitas sekolah hingga kehidupan pribadi. Sesekali aku memandangi wajah Ran yang semakin manis dengan senyumnya. Aku tak pernah menemukan sahabat seperti Ran. Kenyamanan saat aku bercakap dengannya membuatku tak ingin berpisah dengan Ran. Ran menceritakan semua permasalahannya, masalah seseorang yang pernah ada dalam hidup Ran. Hatiku terasa hancur berkeping, entahlah ini pertanda apa. Namun aku masih menanggapi dan sekali-kali mencoba memberikan sedikit petuah untuk Ran. Ternyata Ran mempunyai masa lalu, tak seperti aku yang satupun tak pernah dekat dengan seorang cewek.


“Bayu teman sepesial kamu siapa? Cerita dunk…” Tanya Ran kepadaku.


 Aku gugup menjawabnya, namun akupun bercerita seadanya kepada Ran.


“Sejak kapan aku punya teman sepesial Ran. Selama ini sahabat plus saudaraku ya kamu...”


“Kamu ini ada-ada saja yu…kamu lumayan ganteng, pintar. Masa gag ada yang sepesial satupun? Memang kamu gag berubah ya dari dulu, selalu saja begini.”


Canda dan tawa menghiasi pertemuan kita saat itu. Karena masa liburan sudah habis maka Ran harus kembali ke ranah kelahirannya. Lagi-lagi aku harus berpisah dengan Ran.


“Yu aku berharap sama kamu, beberapa tahun lagi jika kita bertemu aku berharap kita sudah mempunyai sesuatu yang berharga. Ok…!!”


Ran membuatku terpaksa mengangguk. Entahlah apa yang dimaksud harapan itu. Dengan seikhlasnya aku lepaskan kepergian Ran, ku pandangi langkah kaki Ran hingga bayang-bayangnya tak lagi terlihat.
Aku kembali disibukkan oleh aktifitas sekolah, mungkin demikian juga Ran, kami hanya mengirim kabar lewat facebook atau sms saja. Namun karena tersibukkan oleh aktifitas sekolah sehingga hal itu jarang aku lakukan.


Aku menjadi idola disekolah, sering kali aku mengikuti perlombaan baik yang berbasis akademik atau perlombaan ekstra yang diadakan sekolah. Begitulah aktifitasku yang menjadi penghibur buatku walau kadang cukup melelahkan. 


Orang tua mana yang tak bangga melihat anak seperti diriku ini, bukan sombong tapi ini realita, bahkan orang tuaku saja kerap kali memberikan hadiah tanpa aku memintanya. Sungguh hidup yang sempurna sepertinya. Namun sering kali kakak-kakakku mengejek aku “Sayang ya pintar-pintar tapi gag punya pacar…hahaha…” Ejeknya jika kami sudah berkumpul dan bercanda. Candaan yang juga kenyataan, karena pada nyatanya begitulah aku. 


Kakak-kakakku sering sekali bercerita tentang pasangan masing-masing. Mereka sepertinya asyik bertukar pikiran mengenai hal itu. Karena kakak pertamaku laki-laki dan yang kedua perempuan, sehingga mereka sangat asyik jika berbincang hal itu. Tapi tidak menurutku, hal itu sama saja buang-buang waktu. 


Keseharianku hanya berkutut pada buku dan juga laptop. Tak salah jika aku harus memakai kacamata tebal. Tapi walau harus begitu, buktinya parasku masih diidolakan disekolah.


Apa lagi saat aku menginjak kelas IX, tak pernah aku berhenti melototi tumpukan buku. Padahal jika hal itupun tak ku lakukan mungkin aku juga masih berperingkat dikelas, namun karena aku sadar bahwa pintar itu relative, maka aku tak mau membuang sedikit waktuku untuk hal-hal yang tak penting. 


suatu saat menjelang ujian akhir aku merasa sangat jenuh, hingga aku meluangkan sedikit waktuku untuk membuka akun facebookku yang terlihat sudah usang, dengan berpuluh-puluh message, permintaan pertemanan dan pemberitahuan. Aku buka message seketika terlihat nama Masih Ran nama dari akun facebook Ran. Dengan cepat aku membuka message dari Ran.


Masih Ran
Bayu….


Masih Ran
Serius bgdh seeh…


Masih Ran
Kamu ok kn??
Sibuk y brow…kok gag pernah nongl di fb…?    


Tiga massage dari Ran, membuat aku sedikit tersenyum. Rupanya Ran ada kangen juga sama aku. Pikirku. Aku ketik huruf demi huruf untuk membalas messagenya.


Bayu Itu Aque
Hahaha…kangen ya…
Sibuk school aj seeh…p lg ni mau uas…


Kemudian terlihat nama Ran muncul di chat.


Masih Ran
Sok sibuk loe…aku jg mau uas kli brow…hehe…
Tumben ol…?


Dengan cepat tanganku bergerak memencet tombol keyboard.


Bayu Itu aque
Hahaha…km ol jga?
Aq jenuh Ran, iseng aj nie ol…hehe
^_^


Masih Ran
Nyantai aj yu…kita sma2 berjuang,
Taruhan yuuuk…


Bayu Itu Aque
About…?


Masih Ran
UAN lah…


Bayi Itu Aqu,
Apa?


Masih Ran
Jadi gni, aq punya idea, tema taruhanny SANG JUARA. Jd wat sp yg brhasil mndptkn nilai trbaik UAN min tngkt skul, dy akn disambangi sma yg klah. Nanti low aq yg menang nih, siap2 nyambangi aq y… hehe…gmn? J


Bayu Itu Aque
Ok bgdh i2 taruhanny…sp tkut…


Masih Ran
Siiippp…selamat bersaing..


Bayu Itu Aque
Eh…video call an yuuk…


Masih Ran
Hemm….sp yg kangn nih…haha…
Gag ah…malu aq kn jlek..haha^_^


Bayu Itu Aque
Ih…km…L


Masih Ran
Hehe…5aph…
Aq off dlu y…peace….J


Bayu Itu Aque
Huh…ok dh…
Met uas…


Kami mengakhiri obrolan di chat. Aku pun segera off. Ran memang selalu begitu, dia tidak pernah takut kalah bersaing. Percaya dirinya sangat tinggi. Tapi tak dapat dipungkiri dia juga pintar dan cerdas. Sudah kerap kali aku kalah saing dengan Ran. Namun aku juga tak pernah takut apapun resikonya.
Hari berganti hari, hingga tibalah saat Ujian Akhir Nasional. Kini aku benar-benar bersaing, bukan hanya dengan Ran saja tapi dengan semuanya.  


Bayu Anjasmara Ramadhani, ya itulah aku. Bukan Bayu jika tak berprestasi itu motifasiku. Aku terbebas dari taruhan Ran, karena aku berhasil meraih nilai tertinggi UAN senasional dengan nilai 5.95. Semua nilaiku hampir komplot 10, hanya B.Indonesia saja yang tak sempurna. Berita prestasiku terdengar hingga wartawan dan awak media, tak jarang stasiun televisi menyorot wajahku sebagai berita popular waktu itu. Aku banyak diwawancarai wartawan, dan tak sedikit dari media cetak pun memuat beritaku. Namun aku juga masih dengan sikapku yang cuek, karena aku memang sering mendapatkan prestasi, meskipun ini adalah pertama pemberitaan tentang aku dan prestasiku. 


Ponselku bordering.


Ran
Selamat ya…ur the best is the best…
Artis mendadak nie…oh…y sedikit kabar buruk,5aph aku blm bsa nyambangi ke t4mu,tp aq jnji bkal ksna kok,tnang jha,taruhnnya msih brjalan…J


Aku sedikit kecewa mendengar kabar dari Ran, padahal aku sudah berharap Ran segera datang sebelum keberangkatanku ke negeri Jiran (Malaysia). Aku mendapatkan beasiswa prestasi keluar negeri, untuk pilihannya aku memilih Negeri Jiran yang tidak terlalu jauh dari Indonesia.


4 tahun kemudian aku kembali lagi ke Indonesia dengan menyandang gelar yang aku peroleh selama menyelami dunia pendidikan di sebuah Universitas di Malaysia.


Kelurgaku menyambut kedatanganku di Bandara. Mereka melampiaskan rasa kangennya dengan memberikan pelukan hangatnya kepadaku. Tiba-tiba mamaku menanyakan sesuatu kepadaku tentang seseorang yang diajaknya ke bandara.


“Kamu lihat dia, gimana menurutmu…?” Tanya mamaku dengan menunjuk salah seorang perempuan yang sedang berbicara dengan kakakku.


“Siapa dia ma?” Tanyaku yang tak pernah melihatnya sebelumnya.


“Ya kamu berikan komentar dulu, bagaimana dia menurutmu?”


“Cantik, manis.” Jawabku seadanya.


“Bagus kalau begitu, dia itu adalah gadis baik yang pernah mama kenal. Dia solekhah lo, dia anak dari pak Wibowo teman mama/papa bisnis. Sungguh dingin hati mama jika melihatnya.”


“Mama punya maksud ya…?” Tanyaku menanggapi pernyataan mama.


“Y….mama pengin kamu dekat dengan dia. Lagian kan selama ini kamu belum pernah cerita ke mama soal cewek kamu, iya kan…? Apa kamu sudah punya?” Tanya mama dengan nada sedikit kecewa.
“Tapi kan ma….”


“Sudahlah kamu coba dulu, ini permintaan terakhir mama…gag ada salahnya kan…?” Bujuk mama.


Aku tak tega jika sudah melihat mama dengan nada lembutnya. Mama selalu memberikan semua yang aku butuhkan, bahkan sesuatu yang tidak aku inginkan pun mereka berikan. Aku hanya ingin membahagiakan mereka bagaimana pun caranya, itu yang pernah ada dihatiku sejak dulu.


Aku hanya mengangguk dengan sedikit tersenum menanggapi permintaan mama. Kemudian gadis itu mendekat dengan menundukkan kepalanya sebagai tanda perkenalan.


“Maya…”


“Bayu…” Jawabku membalas.


Sepertinya dia memang gadis solekhah, parasnya juga manis. Cara berbicaranya kalm. Wajar jika keluargaku tertarik dengannya. Mungkin aku juga demikian, tapi tidak untuk sekarang. Karena dihatiku sudah ada nama satu gadis yang tertanam sejak lama.


Aku sangat merindukan aura ruangan kamarku. Sesampai dirumah aku ingin sekali langsung memeluk springbad empukku. Tapi aku tergoda oleh hidangan di meja makan. Ingin sekali rasanya aku melahap masakan kesukaanku. Dengan cepat tanganku menyahut makanan yang dihidangkan, tapi belum sampai memegang gerakan tanganku dihentikan oleh suara yang mencegahnya.


“Hup…cuci tangan dulu…sana…” Katanya.


Dengan spontan aku menuju kamar mandi. Pikiranku tertuju oleh wanita itu.
Sepertinya aku mengenali suara itu, masak sih Ran….ah bukan…
Aku menepiskan pikiranku. Wanita itu berpenampilan berbeda dengan jilbab yang menutupi rambutnya. Aku juga belum pernah melihat sebelumnya, walau sepertinya aku mengenalnya. Aku mencoba tak menghiraukan,  dengan langsung melahap hidangan dimeja makan.


“Ini minumnya, hati-hati makannya, nanti kesedak lo…” Tegurnya kepadaku. Tanganku dengan cepat menarik tangan wanita itu. Aku menatapnya lama, yang kemudian wanita itu memalingkan pandangannya. Aku segera melepaskan tangannku yang memegang tangannya.


“Maaf…maaf…kamu…??” Aku masih dengan tatapanku yang penasaran akan dirinya.


“Aku ingin membayar hutang taruhan yang pernah aku buat beberapa tahun lalu. Selamat ya…” Dia tersenyum dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku semakin yakin bahwa wanita itu…


“Ran...kamu Ran…” Teriakku histeris dengan menutupi mukaku.


“Ya…apa yang membuat kamu lupa kepadaku…?” Tanyanya dengan senyumannya.


“Wau…kamu catik banget Ran…”


Ran hanya tersenyum menanggapi pernyataan dan candaku. Aku langsung menarik Ran untuk menemani aku makan. Aku tak bosan-bosannya memandagi Ran, yang memang berpenampilan berbeda. Dia jauh lebih cantik, wajahnya semakin manis dengan senyum dan lesung pipinya. Sesekali Ran menegurku.


“Pandangan pertama diizinkan…” Tegurnya dengan nada bercanda. Tapi pandanganku tak bergeming.


“Yang selanjutnya adalah zina mata…” Dia masih dengan senyum manisnya. Dengan spontan aku menundukkan kepala. Tapi lirikan mataku juga tak berubah. Ran bersikap dingin tapi masih tersenyum. Dia memerhatikan tingkahku yang mungkin menggemaskan. 


Keesokan harinya aku sekeluarga berkeliling kota dan berkunjung kesalah satu pantai sebagai sambutan kedatanganku. Aku sangat senang dan bahagia dengan perlakuan yang mereka berikan. 


Aku menarik lengan Ran, dan mengajaknya kesuatu tempat dimana kita sering mengunjungi saat kita masih duduk dibangku SD dulu. Dimana kita menciptakan nostalgia yang indah ditempat itu. Perlahan aku pun mencoba membuka mulut, walau hatiku terasa gelisah.


“Ran…”


“Ya…”


Nafasku tak beraturan saat itu. Suaraku terasa lirih.


“Aku…sayang kamu Ran…” 


“Hemmm….” Ran seperti memastikan pernyataan yang keluar dari mulutku.


“Aku sayang, aku cinta, aku suka kamu Ran…” Dengan suara sekeras mungkin aku ungkapkan semua isi hatiku.


“Bayu…kamu…” Ran terkaget mendengar ungkapanku.


“Ya…aku tahu Ran, aku tahu jika cintaku ini hanya akan manis dibibir saja. Tapi aku jujur, aku tak bisa sembunyukan ini semua.” Nada bicaraku semakin tak beraturan. Aku menatap Ran dalam-dalam.


“Maaf jika aku harus katakan semua ini Ran. Bukan aku membagi pikiran dan perasaanku selama ini. Tapi aku hanya ingin kamu tahu akan apa yang aku rasakan Ran. Aku sayang kamu…” Aku semakin menekankan nada bicaraku. Ran berjalan mendekatiku. Parasnya tak berubah, masih tetap tenang dan tersenyum. Dia hanya menarik nafas panjang.


“Yu…aku tidak menyangka jika semua ini akan terjadi. Aku juga sayang, aku juga cinta. Tapi sayang dan cintaku hanya sebagai saudara dan seorang teman saja. Aku suka persahabatan kita yu. Sangat…suka…” 

Ran mengungkapkan isi hatinya dengan menenagkanku. Suaranya lembut dan bijaksana. Nada bicaranya tersedat seperti menahan sesuatu. Aku melihat butiran air mata keluar dari matanya. 


“Yu…aku tak tahu apakah kedatanganku kemari akan semakin membuat kamu sedih. Tapi aku tak berharap demikian. Aku hanya ingin membagi kebahagianku yang juga aku rasa kebahagiaanmu. Kesedihanmu hanya akan membuat aku perih yu. Terimalah ini…” Dengan penjelasan yang panjang lebar Ran menyodorkan sesuatu kepadku. Sebuah undangan, bernama RANINDIA PUSPITA SARI & WAHYU PUTRA ANJASMARA. Mungkin inilah yang diharapkan Ran jika beberapa tahun lagi kita bertemu. Aku menerimanya dengan hati dan perasaan rapuh, tapi inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Cintaku manis dibibir.